Friday, November 30, 2012

Al Taisir; Pemimpin Baru, Semangat Baru




Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda yang mempunyai peran sebagai agent social of change harus mempunyai kapasitas diri yang mumpuni. Selain skill juga harus diimbangi dengan kapasitas intelektual.


AL TAISIR Komisariat Walisongo, adalah wadah berkumpul bagi mutakhorijin Yayasan Tajul ‘Ulum dan Ponpes Sirojuth Tholibin Brabo yang menuntut ilmu di IAIN Walisongo Semarang. Meski pada tahun-tahun sebelumnya tidak begitu banyak melaksanakan kegiatan. Setelah terpilihnya ketua baru, kini mulai mengadakan berbagai kegiatan sebagai sarana silaturrahim antar anggota perta pembekalan diri.
Pemilihan ketua baru dilaksanakan pada (tgl) bersamaan dengan Halal Bi Halal Al Taisir di Taman Fakultas Dakwah IAIN Walisongo. Pemilihan tersebut dihadiri lebih dari 20 mahasiswa alumni Brabo dari berbagai angkatan, melalui dua putaran. Hingga akhirnya terpilih Sahabat Ahmad Basuki (Mutakhorij MAK Tajul ‘Ulum 2011) sebagai Ketua Al-Taisir periode 2012-2013 menggantikan ketua sebelumnya, sahabat Himam Nasiruddin.
Mahasiswa untuk Kesejahteraan Desa
Salah satu program kerja yang dikembangkan adalah kegiatan rutin dwi mingguan, yaitu Ngobrol Bareng dan Diskusi Sarasehan. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai wujud komitmen sahabat-sahabat Al Taisir untuk membekali diri dengan wacana keilmuan.
Salah satu tema besar yang diangkat adalah “Mahasiswa dan Lumbung Kesejahteraan Desa”, dengan pemateri sahabat Rohwan, mutakhorij MAK Tajul ‘Ulum 2008. Diskusi berjalan menarik dengan peserta terlihat sangat antusias. “Kita sebagai mahasiswa yang juga alumni pondok pesantren, setidaknya mempunyai tiga tanggungjawab, yaitu tanggungjawab moral, mental dan spiritual”, papar mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama yang saat ini menjabat sebagai Presiden BEMF Ushuluddin.
Shofa Hasan, mahasiswa Fakultas Syariah Jurusan Ekonomi Islam menambahkan, selain tiga tanggung jawab itu, masih ada tanggung jawab-tanggung jawab yang lainnya, diantaranya yaitu tanggung jawab intelektual. “Selain tiga tanggung jawab tadi, kita juga punya tanggung jawab intelektual”, tutur mahasiswa yang juga Demisioner Ketua ForSHEI (Forum Studi Hukum Ekonomi Islam).
Tema tersebut, sebagai stimulus bagi mahasiswa untuk fokus dalam bidang kajian yang sekarang ditekuni. Agar nantinya setelah lulus dan kembali ke daerah asalnya, mampu memberikan perubahan, dan dampak positif dengan skill dan kemampuan masing-masing.
Program kerja ini idak hanya berkutat pada kegiatan diskusi dan  bahtsul kutub. Kegiatan lainnya seperti tahlil bersama, membaca Maulid Adz Dziba’i, peringatan Khaul Simbah K. Syamsuri Dahlan, K. Syarqowi, KH. Ansor Syamsuri, juga ikut dilaksanakan sebagai penyeimbang serta sebagai wujud nguri-nguri tradisi santri.



Laporan: Muafa Elba

Sunday, June 17, 2012

Sejarah Mualif Alfiyah Ibnu Malik

Pengarang: Muhammad Bin Abdullah Bin Malik Alandalusy

Profile Pengarang:

Nama Asli: Jamaluddin Muhammad Bin abdullah Bin Abdullah Bin Malik

TTL: Jayyan Alandalus Tahun 600 H (1230 M)

Beliau Adalah seorang Al-Imam Al'alaamah (Yang Mempunayi Ilmu Luas) Alandalusy (Vandals) sebuah tempat yang menjadi hijrahnya penduduk asli jermany (Jerman dan Belanda sekarang) dari jermany ke isberia (Spanyol dan Portugal sekarang) yang mana kota andalus runtuh oleh kerajaan Kristen Konstalin.

Mazdhab Fiqih: Beliau bermadzhab Maliky ketika berada dikawasan Negara Islam bagian Barat dan Bermadzhab Syafii ketika berada di Asia Bagian Timur sampai berakhir ke Damsyiq - Syiria.

Guru-Gurunya:
- Memperdalam Bahasa arab dari gurunya abu Madzfar Tsabit Bin Muhammad Yusuf Alkala'i dari suku lublah;
- Memperdalam Ilmu Qiraat dari abi Alabbas Ahmad bin Nura;
- Membaca kitab Sibawaih dari Abi Abdillah Bin Malik Almarsyani dan Jalis Ibnu Ya'isy dan muridnya Ibn Amrun;
- Menjadi seorang spesialis penyempurna dialektika bahasa arab sehingga sampailah seperti apa yang dia cita-citakan dan menjadi panutan untuk ilmu bahasa arab pada zaman itu.
- Beliau menjadi seorang pakar dalam ilmu Qiraat dan mengarang syair Daliyah Marzumah Fi Qadr Asyatibiyah.

Karangan-karangan lain beliau:
- Almuwashal Fi Nudzum Almufassil terkanal dengan Simakul Mandhum
- Fakul Almakhtum atau terkenal dengan Fakkul Mandhum
- Kafiyah Asyafiiyah 3000 Bait dan Syarahnya.
- IKmal A'lam Bimutsallas Alkalam Kitab yang sangat besar dan berjilid.
- Lamiyah Afal Wa Syariha
- Fi'lu Wa Afal
- Almuqaddimah Asadiyah
- 'Iddatul Allafidz Wa 'Umdatul Hafidz
- Annudzum Alaujaz Fima Yahmaz
- Al'itidha Fi Adzaa Wa Adlaad
- 'Irab Musykil Albukhari
- Tuhfatul Almaudud Fi qushur Wa Addud
- Syarh Tashil

Sejarah Dikarangnya Kitab Alfiyah Ibn Malik:

Pada mulanya beliau mengarang kitab Alfiyah Ibn Malik sebagai persembahan bagi anaknya Taqiyuddin yang biasa dipanggil dengan Al-Asad (sang pemberani).

Pensyarah Alfiyah Ibnu Malik:

Banyak ulama-ulama nahwu islam yang membuat syarah Kitab Ibnu Malik (penjelasan kitab Alfiyah Ibnu Malik) yang kurang lebih berjumlah 40 kitab diantaranya:

1. Pengarang sekaligua anaknya Badruddin Muhammad
2. Burhanuddin Ibrahim Bin Musa Bin Ayub
3. Bahauddin abdullah Bin Abdurrahman Bin abdullah Bin 'Aqil Alqursy Al'aqily Almisyry.
4. Syaikh Abdullah Bin Husain Aladkawi
5. Badruddin Bin Qasim Bin Abdullah Bin Ali Almisry yang terkenal dengan Ibnu Umu Qasim
6. Nuruddin Aba Hasan Ali Bin Muhammad Alasymuni
7. Alalamah Mukhtar Bin Bun
8. Ibnu 'Ainy
9. dll...

Thursday, April 19, 2012

DESkripsi

Dari Sebuah Penantian
Pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 10.35 pagi, namun aku baru saja terbangun dari tidurku padahal aku ada jam kuliah. Setelah sebelumnya aku dibuat menganuk luar biasa ketika mengkuti Mata Kuliah Ulum al-Qur’an. Karena dosen yang tidak kunjung hadir yang terjebak kemacetan pagi kota atlas. Ditambah semalam, aku tak bisa tidur karena semakin benyaknya nyamuk di musim hujan ini yang mengusik tidurku mengiang-ngiang di telingaku. Jarumnya yang kecil dan lancip terasa sakit saat menggigit kulitku.
Segera saja aku berdiri mengambil wudhu dari kran tempat wudhu masjid al-Fitroh. Dengan air yang bersih, suci dan menyegarkan ku basuh rata wajahku, tangan hingga kakiku. Kemudian aku berlari memakai sepatu, dan segara ku langkahkan kakiku cepat-cepat menuju ruang kelas D-12 untuk mengikikuti kuliah bersama bapak Raharjo.
Saat aku telah sampai di depan kelas ku intip dari celah-celah pintu yang sedikit terbuka. Dan untungnya ku dapati dosenku belum hadir. “Huuuuuuuh……… leggaa.” ku helai nafas panjang kelegaan. Hari ini jika aku telat kembali hal ini akan menjadi masalah yang gawat dan ruwat karena aku belum mengikti Ujian Tengah Semester (UTS), ungkapku dalam hati.
Tepi lama-kelamaan suasana kelas semakin ramai seperti pasar saja. Pak Raharjo yang tak kunjung hadir. Tawa-tawa senda gurau ditambah obrolan gadis-gadis yang diiringi lagu paling ngehits akhir-akhir ini ‘Alamat Palsu’nya Ayu Ting-ting membuat suasana semakin riuh saja. Akan tetapi aku masih saja mengantuk dan larut dalam lamanya penantian. Aku tiada pernah tahu kenapa sering sekali kami harus menanti lama?, heranku.
Hari mulai beranjak siang, teman-teman pun banyak yang mlai merasa bosan menanti. Sudah hampir satu jam kami di sini dati Pak Raharjo dosen yang juga ahli dalam berbahasa inggris itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Komting sudah mencobo untuk menghubungi beliau, akan tetapi selalu gagal. Beliau hanya meninggalkan pesan untuk menyiapkan LCD proyektor. Hingga akhrinya banyak mahasiswa yang berhamburan meninggalkan ruangan kelas. Karna sudah terlampau lama menunggu meraka menfonis bahwa beliau tidak akan hadir.
Baru beberapa langkah mereka keluar kelas. Dari kejauhan terlihat sosok yang gagah dan berwibawa, seorang lelaki paruh baya. Memang benar beliau adalah dosen KTI kami. Segera saja mereka berlari mesuk kelas kembali. Seperti biasanya, proyektor pun segera dihidupkan dan disambungkan dengan notebook, kuliah pun dimulai. Suasana kelas yang tadinya gaduh tak karuan kini menjadi lebih tenang.
Di sisa waktu kurang dari 30 menit, pada pertemuan kali ini dibahas materi mengenai topik dan tema. Beliau memaparkan penjelasan mengenai pengertian dan kedudukan topik dan tema dalam berbagai bentuk jenis karangan. Tidak lupa perbedaan diantara keduanya pun juga dijelaskan dengan singkat, padat dan jelas.
Setelah mengaku faham dan mengerti dengan tidak ada yang mau bertanya. Kini giliran mahasiswa yang diminta untuk memberikan contoh karangan dalam berbagai bentuk. Banyak mahasiswa yang hanya terdiam, dari pojok belakang tanpa pikir panjang aku acungkan jariku. Ku coba mencontohkan karangan bentuk narasi dengan menceritakan kegiatanku mulai bangun tidurku pukul 01.30 Wib samapai berangkat kuliah pukul 06.45 Wib. Kemudian untuk teman-teman yang lain menjelaskan apa topik dan tema dari contoh yang aku berikan itu. Akan tetapi tidak ada yang mampu menjawab dengan betul.
Di karenakan banyak mahasiswa yang masih belum bisa membedakan topik dan tema, sebelum pertemuan di pagi menjelang siang itu diakhiri kami diberikan tugas menulis karangan. Seperti tugas-tugas sebelumnya ketentuan tugas kali ini tidak jauh berbeda, minimal 500 kata/1 halaman. Sembari diabsen kami dibaga menjadi 4 (empat) kelompok yaitu: narasi, diskripsi, eksposisi dan argumentasi berdasarkan urutan absensi. Berhubung absensiku adalah awal pertengahan aku mendapatkan bagian diskrisi.

Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah

Islam telah menggariskan dalam al-Quran dan Sunnah, bahwa setiap orang yang beriman itu adalah bersaudara. Wajib bekerjasama di dalam kebaikan serta mendamaikan antara satu dengan lainnya. Persaudaraan dalam Islam merangkumi Internasionalisme dan tidak mengenal nasionalisme dalam arti sempit. Mengutip beberapa pandangan tokoh seperti al-Maududi, Ibn Khaldun, Hasan al-Banna, Rashid Rida, bahawa Nasionalisme atau ashabiyah yang berkembang saat ini cenderung kepada negatif dengan membelakangkan prinsip-prinsip ukhuwah Islamiyah.
Dasar dari Ukhuwah Islamiyah ialah Firman Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya seperti:
“Sesungguhnya orang beriman itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat rahmat” (QS. al-Hujurat ayat 10)
“Orang mukmin itu seperti satu jasad, atau bagaikan satu bangunan yang saling mengukuhkan” (HR. Bukhari Muslim)

Ukhuwah Islamiyah dilandasi oleh ikatan persaudaraan yang berdasarkan kepada kesamaan keimanan, kesepakatan atas pemahaman serta pembelaan kepada Islam sebagai agama yang diridhai Allah SWT. Iman adalah tali pengikat yang lebih kuat dari ikatan keturunan, kekerabatan, kesukuan dan kebangsaan.

Ukhuwah Islamiyah
telah ditanam oleh para Ulama Silam dan bersemai dengan suburnya di kepulauan ini. Dalam sejarah kita mengenal para ulama yang menyebarkan ajaran Islam yang berasal dari suku Melayu, Kelantan, Johor, Banjar, Bugis, Mandailing, Minangkabau, Rao/Rawa, Johor, Riau, Jawa dan sebagainya. Sebagai tokoh, mereka memiliki pengaruh yang tiada terhingga di Nusantara hingga saat ini. Mereka melahirkan keturunan yang ramai dan berpengaruh, mereka meninggalkan ajaran, karya tulis dan murid-murid yang setia dan mereka meninggalkan jasa yang tidak terhingga nilainya.

Umat Islam di Nusantara sebelum kemerdekaan menjadi sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh batas geografi dan kenegaraan lainnya. Ulama silam berdakwah di Nusantara dan dimiliki secara bersama oleh umat Islam yang berada di rantau ini.

Islam tidak mengenal batas geografi, perbedaan suku kaum dan bangsa. Orang-orang dan negara Islam adalah umat yang satu, satu kesatuan tanah air yang berpusat pada kesatuan agama dan kesatuan umat atas dasar ukhuwah Islamiyah.

Agus Salim mengatakan bahawa Nasionalisme yang salah menjadi sumber malapetaka bagi bangsa-bangsa di dunia dengan berlakunya peperangan dan kekacauan lainnya atas nama nasionalisme di Eropah. Rasa cinta pada tanah air menurut A. Hasan hendaknya tidak memutus hubungan mereka dengan muslim di negara Islam lain dengan alasan mereka bukan setanah air. Ini karena setiap muslim adalah bersaudara, satu sama lain harus bersatu.

Jelas nasionalisme versi Soekarno yang mengarah pada chauvisme bertentangan dengan nasionalisme yang diprakarsai oleh Haji Agus Salim, Hamka dan M. Natsir, dimana nasionalisme harus bermuara pada mencari keridhoan Allah SWT

Nasionalisme

Nasionalisme berdasarkan kepada keturunan, bahasa, agama, daerah, sejarah adat, persamaan pemerintahan dan berdasarkan kepada kepentingan bersama. Pengertian nasionalisme sangat luas dan belum memiliki defenisi yang tepat hingga saat ini. Nasionalisme modern lebih bersifat fanatik untuk kepentingan bangsa dan keturunan. Tidak membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mengarah kepada nasionalisme dizaman jahiliyah.

Barbara Ward memandang sinis nasionalisme yang telah menyebabkan peperangan berpanjangan dan perlombaan senjata seperti nasionalisme versi Amerika, Yahudi, German.

Imam khomeini menerima nasionalisme mencintai tanah air, mempertahankan negara, tetapi beliau tidak menerima nasionalisme yang melibatkan sengketa antara negara Islam.

Abu Ala al-Maududi menerima nasionalisme seperti dukungannya kepada Pakistan tanpa memusnahkan bangsa lain. Beliau tidak menerima konsep nasionalisme yang memiliki sifat kebangsaan atau asabiyyah, kesukuan fanatik yang tidak melihat kepada haq dan bathil.

Hasan al-Banna memetakan nasionalisme dengan akidah. Setiap wilayah yang terdapat orang Islam harus dicintai dan dipertahankan kehormatannya. Bagi Rashid Rida pula, Islam melarang keras berpecah sesama Islam demi kepentingan puak, negara dan kawasan.



Hubungan Kepulauan Melayu

Negara-negara yang terbentuk setelah kemerdekaan saat ini seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura tidak menunjukkan teritori dan kekuasaan raja-raja melayu Islam silam. Kerajaan Aceh Darussalam (1607-1936) dengan rajanya yang terkenal Iskandar Muda, wilayah kekuasaannya meliputi Aceh, Deli, Johor, Bintan, Selangor, Kedah, Pahang, sampai ke Semenanjung Malaka. Sebuah kerajaan Melayu Riau Lingga (Abad ke 19) wilayah kekuasaannya meliputi Deli, Johor, dan Pahang. Setelah merdeka bangsa Melayu dipisahkan menjadi warga negara Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Selatan Thailand. Apa yang pasti, dalam istilah ilmu tidak mengenal adanya bangsa Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Selatan Thailand. Karena bangsa bermaksud race. Istilah bangsa Brunei, Thailand, Malaysia dan sebagainya adalah istilah politik saja, yang benar adalah warganegara atau rakyat.

Para raja mengunakan istilah Sulthan atau Malik. Bahasa Melayu dengan tulisan arab Melayu menjadi bahasa pengantar dan bahasa ilmu, mata wang emas diberlakukan, tanggal Hijriyah menjadi pedoman, setiap Sulthan biasanya didampingi oleh Ulama yang memiliki taraf yang hampir sama dengan Sulthan, Al-Quran dan Sunnah menjadi hukum poistif.

Parameswara raja Malaka yang pertama adalah berasal dari Palembang. Kerajaan Aceh Darus Salam memiliki hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan pahang, Malaka dan Johor. Keluarga Diraja Negeri Sembilan yaitu Yang Dipertuan Agung Malaysia yang pertama berasal dari Minangkabau. Kerajaan Johor dan Selangor Memiliki hubungan kekeluargaan yang rapat dengan Bugis & Kerajaan Riau Lingga. Para Menteri dan pejabat tinggi lainnnya di Malaysia banyak yang memiliki darah Rao, Aceh, Riau, Minangkabau, Palembang, Jambi, kerinci, Jawa.

Hubungan Kepulauan Melayu telah berjalan sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia lagi. Hubungan masyarakat kedua pulau semakin rancak dengan adanya jalinan ukhuwah Islamiyah yang diasaskan oleh para ulama silam yang berkembang kepada hubungan kekeluargaan, isntitusi diraja, suku kaum dan sebagainya.

Dari berbagai penemuan atropologi dan arkeologi dapat disimpulkan bahawa bahasa Melayu merupakan keturunan dari penutur bahasa Austronesia. Dari sini dapat di pahami bahawa orang-orang yang sekarang berada di bumi Nusantara, termasuk di Pacific sana, serta Semenanjung Melayu ini berasal dari satu nenek moyang yang sama, yaitu penutur bahasa Proto-Austronesia, di Formosa, Taiwan. Mayoritas masyarakat di Nusantara digolongkan kepada Melayu. Orang Melayu merujuk kepada mereka yang bertutur bahasa melayu dan mengamalkan adat resam orang Melayu.

Istilah "Melayu" ditakrifkan oleh Unesco pada tahun 1972 sebagai suku bangsa Melayu di Brunei, Filipina, Indonesia, Madagaskar, Semenanjung Malaysia, Singapura dan Selatan Thailand.

Setelah lahirnya negara Indonesia pada tahun 1945 dan negara Malaysia tahun 1957 jaringan itu dilanjutkan oleh para cendekiawan Muslim seperti Natsir, Hamka, Imadudin Abdul Rahim, Adam Malik dan sebagainya.

Perlu dicatat bahwa jaringan ini bukanlah jaringan kebetulan, tetapi ianya adalah jaringan intelektual muslim yang telah berjalan sekian lama dan berterusan di kepulauan ini.

Disamping jaringan itu dalam rangka dakwah dan ukhuwah, ianya juga bertujuan melawan dominasi penguasaan ekonomi seperti yang dilakukan oleh SDI dan dalam rangka melawan penjajahan pihak asing dikepulauan ini.

Seperti biasa jaringan intelektual muslim Indonesia-Malaysia jarang sekali menggunakan jalur diplomasi kedua negara, karena jaringan diplomasi biasanya jaringan yang didasarkan atas kepentingan politik kekuasaan dan ekonomi yang bersifat sementara bukan atas kepentingan ukhuwah Islamiyah yang bersifat kekal abadi.

Hubungan kedua negara dikotori oleh perasaan nasionalisme sempit yang dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk menutupi kegagalan mereka dalam mengurus negara. Nasionalisme sempit juga dimanfaatkan oleh pemerintah Malaysia untuk mencari simpati rakyat dalam pemilu.

NAHWU-mu'robatul asma'

المعربات والمبنيات من الاسماء (رفع, نصب, جر)

2
قَالَ العلماءُ : التَّوْبَةُ وَاجبَةٌ مِنْ كُلِّ ذَنْب ، فإنْ كَانتِ المَعْصِيَةُ بَيْنَ العَبْدِ وبَيْنَ اللهِ تَعَالَى لاَ تَتَعلَّقُ بحقّ آدَمِيٍّ فَلَهَا ثَلاثَةُ شُرُوط :أحَدُها : أنْ يُقلِعَ عَنِ المَعصِيَةِ .والثَّانِي : أَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا .والثَّالثُ : أنْ يَعْزِمَ أَنْ لا يعُودَ إِلَيْهَا أَبَداً . فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ الثَّلاثَةِ لَمْ تَصِحَّ تَوبَتُهُ.
وإنْ كَانَتِ المَعْصِيةُ تَتَعَلقُ بآدَمِيٍّ فَشُرُوطُهَا أرْبَعَةٌ : هذِهِ الثَّلاثَةُ ، وأنْ يَبْرَأ مِنْ حَقّ صَاحِبِها ، فَإِنْ كَانَتْ مالاً أَوْ نَحْوَهُ رَدَّهُ إِلَيْه ، وإنْ كَانَت حَدَّ قَذْفٍ ونَحْوَهُ مَكَّنَهُ مِنْهُ أَوْ طَلَبَ عَفْوَهُ ، وإنْ كَانْت غِيبَةً استَحَلَّهُ مِنْهَا . ويجِبُ أنْ يَتُوبَ مِنْ جميعِ الذُّنُوبِ ، فَإِنْ تَابَ مِنْ بَعْضِها صَحَّتْ تَوْبَتُهُ عِنْدَ أهْلِ الحَقِّ مِنْ ذلِكَ الذَّنْبِ وبَقِيَ عَلَيهِ البَاقي . وَقَدْ تَظَاهَرَتْ دَلائِلُ الكتَابِ والسُّنَّةِ ، وإجْمَاعِ الأُمَّةِ عَلَى وُجوبِ التَّوبةِ .
قالَ تَعَالَى : { اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ } [ هود : 3 ] ، وَقالَ تَعَالَى: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحا } التحريم : 8
عن الأَغَرِّ بنِ يسار المزنِيِّ - رضي الله عنه - ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - : (( يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، تُوبُوا إِلى اللهِ واسْتَغْفِرُوهُ ، فإنِّي أتُوبُ في اليَومِ مئةَ مَرَّةٍ )) رواه مسلم
رياض الصالحين - (ج 1 / ص 22(
A. Isim Mu’rob
الاعراب هو تغيير اواخر الكلم لاختلاف العوامل الداخلة عليها لفظا او تقديرا
I’rob adalah perubahan akhir kata, karena perbedaan amil yang memasukinya, baik secara lafadz ataupun diperkirakan keberadaannya.
Sebagaimana kalimat isim ada yang mu’rob dan mabny. Al-Mu’robaat al-Asma adalah suatu isim yang tidak serupa dengan kalimat isim dan selamat dari keserupaan. Isim mu’rob atau isim mutamakin itu ada dua macam: 1) isim mutamakin imkan atau mu’rob munshorif, 2) isim mutamakin ghoiru imkan atau mu’rob ghoiru munshori.

B. Macam-macam isim mu’rob
1. Mu’rob dengan harokat
a. Isim mufrod munshorif
اسم المفرد : الاسم يدل على معنى واحدة ويقبل التنوينق
Isim mufrod adalah kalimah isim yang menunjukkan arti tunggal dan menerima tanwin. Ketika tingkah rafa’ dialamati dengan harokat dhomah, seperti جاء محمد , ketika tingkah nashob dialamati dengan harokat fathah, seperti رايت محمد dan ketika tingkah jer dialamati dengan harokat kasroh, seperti مررت بمحمد.
b. Jama’ taktsir munshorif
جمع تكثير : الاسم يدل على المعنى الكثيرة ويتغير من اصل مفرده
Jama’ taktsir adalah kalimah isim yang bermakna jama’ atau banyak dan berubah dari asal mufrodnya. Ketika tingkah rafa’ dialamati dengan harokat dhomah,seperti جاء الاساتذ ketika tingkah nashob dialamati dengan harokat fathah, seperti رايت الاساتذ dan ketika tingkah jer dialamati dengan harokat kasroh, seperti جلسنا علي الكرسي.
c. Jama’ muannas salim
جمع المؤنث السالم : الاسم يدل ؤنث السالم : الاسم يدل على المعنى الكثيرة ويسلم من اصل مفرده
Jama’ muannas salim adalah kalimat isim yang menunjukkan arti banyak dan selamat dari perubahan asal mufrodnya. Ketika tingkah rafa’ dialamati dengan harokat dhomah,seperti جاء المسلمات, ketika tingkah nashob dialamati dengan harokat fathah, seperti رايت المسلمات dan ketika tingkah jer dialamati dengan harokat kasroh, seperti مررت بالمسلمات.
d. Isim ghoiru munshorif
اسم غيرالمنصرف : الاسم الذي لا يقبل علي التنوينق
Isim ghoiru munshorif adalah kalimah isim yang tidak menerima tanwin. Ketika tingkah jar dialamati dengan harokat fathah, seperti مررت باحمد.
2. Mu’rob dengan huruf
a. Isim tasniyyah
اسم تثنية : ما دل على اثنين ,بزيادة الف ونون في حالة الرفع , او ياء ونون في حالة النصب والجر,اغنت عن العاطف والمعطوف صالح للتجريد وعطف مثله عليه
Adalah isim yang menunjukkan arti dua, dengan tambahan huruf alif dan nun ketika rafa’, atau ya’ nun ketika nasob/jar. Yang mencukupi dari huruf athaf dan lafadz yang diatafkan, tambahan tersebut pantas dihilangkan dan mengathofkan sesamanya lafadz pada lafadz tersebut.
Contoh:
جاء التلميذان الى المدرسة (رفع) , نظرت المرئتَينِ الجميلتينِ (نصب), ذهبت الى المكتبة مع الرجلينِ(جر)
Ada beberapa kalimah yang disebut dengan mulhq isim tasniyyah, ada yang tanpa syarat seperti lafadz اثنان,اثنتان,ابوان, dan ada pula yang harus memenuhi persyaratan harus harus dimudlofkan pada isim dlomir yaitu lafadz كلا,كلتا
b. Jama’ mudzakkar salim
جمع مذكر سالم : ما دل على اكثرمن اثنين ,بزيادة واو ونون في حالة الرفع , او ياء ونون في حالة النصب والجر
Adalah isim yang menunjukkan arti lebih dari dua, dengan tambahan waw dan nun ketika rafa’, atau ya’ nun ketika nasob dan jar.
Contoh:
يصلى المسلمون فى المسجد (رفع), ان المجاههدينَ يجاهدون في سبيل الله (نصب), القران شفاء للمسلمينَ (جر)
Ada beberapa lafadz yang dikatakan sebagai mulhaq jama’ mudzakar salim, I’robnya disamakan persis dengan jama’ mudzakar salim, yaitu rafa’ ditandai wawu, nashob dan jar ditandai ya’ . Lafadz tersebut antara lain :
عشرون, اهلون, عليون, ارضين, سنون, عالمون, وما سواها
c. Asma’ sittah
اسماء ستة : اب ,اخ, حم, فو,ذو, هن .فترفع بالواو,وتنصب بالالف,وتجر بالياء
Asma’ sittah adalah lafadz abun, akhun, chamun, fu, dzu, dan hanu. Dirafa’kan dengan wawu, nasob dengan alif, dan jar dengan ya’. Asma’ sittah harus memenuhi 4 syarat yaitu:
1) Harus dimudlofkan
2) Dimudlofkan pada selain ya’ mutakallim
3) Lafadznya tidak ditashghir (wazan fu’ailun)
4) harus berbentuk mufrod
ان اخاك ذو مال ,هو يزور الى ابيك
C. Ismu al-Mabni
1. Pengertian Ismu al-Mabni
البناء هو لزوم اواخر الكلم حركة او سكونا وانواعه ضم و فتح وكسر وسكون
Bina’/ mabni adalah kata yang huruf akhirnya senantiasa tetap (tidak berubah), ada 4 macam mabni, yaitu: dhom, fath, kasr, dan sukun
البناء هو لزوم اواخر الكلم حركة او سكونا وانواعه ضم و فتح وكسر وسكون
Bina’/ mabni adalah kata yang huruf akhirnya senantiasa tetap (tidak berubah), ada 4 macam mabni, yaitu: dhom, fath, kasr, dan sukun
2. Isim-isim yang dibaca mabni antara lain:
a. Isim dhomir
Isim dhomir (kata ganti)adalah isim yang hukumnya mabni seperti lafal: انَا, انت, هو Lafal tersebut adalah contoh dari isim dhomir.
b. Isim isyaroh
Isim isyaroh (kata tunjuk)adalah isim yang digunakan untuk memberi isyarat pada sesuatu yang di isyarohi(musyaroh ilaih) dan selalu mabni seperti lafal : هذا هذه هؤلأ tetapi apabila isim isyaroh menunjukkan makna dua atau tastniyah maka isim isyaroh tersebut menjadi mu’rob yaitu dengan tanda apabila rafa’ dengan alif nasab dan jer dengan huruf ya’ Contohnya: هذه الشجرة كبيرة
c. Isim mausul
Isim mausul adalah isim yang selamanya butuh shilah dan (kata penghubung) .sama halnya dngan isim isyaroh apabila isim mausul menunjukkan makna dua/mutsanna maka isim tersebut mu’rob.rofa’nya dengan alif,nasab dan jernya dengan ya’.
Macam-macamnya antara lain: الذى, الذين, التي ,اللاتي ,ما, من . Contohnya: هو الذى خلقكم من نفس واحدة
d. Isim syarat
Isim syarat yaitu isim yang diletakkan didepan dua kalimat yang mana kalimat kedua merupakan akibat atau jawaban dari jumlah yang pertama.
Adad syarat ada dua :
1) Adad syarat yang menjazmkan dua fi’il
Antara lain: من, مهما, متى, انى, اين, اينما, أيان, حيثما, كيفما
Contohnya : اينما تكونوا يدرككم الموت
2) Adad syarat yang tidak menjazmkan
Antara lain: لوما , لولا, إذا, أما, لو
Contohnya: يعدل الأمير يحبه الشعب لو
Adad-adad syarat tersebut di atas adalah isim kecuali لو adalah harf
Jawab syarat wajib disertai fa’ (الفا) contohnya: من غش امتي فعليه لعنة الله
e. Isim istifham
Isim istifham adalah isim yang digunakan untuk menanyakan sesuatu.
Isim istifham antara lain: ما, ماذا,اين, ايان, كيف, اني, كم ,متى,اي, من
f. Dharaf
Zharaf adalah isim yang menunjukkan arti waktu atau tempat terjadinya suatu kejadian.
Zharaf ada dua macam:
a) Zharaf zaman antara lain: إذا, متى, إذ, امس , الان, مذ, منذ, بين, بينما
b) Zharaf makan antara lain: حيث ,هنا, هناك ,اين, انى

MAHASISWA DAN PEMBANGUNAN

KHUTBAH JUM’AT
Mahasiswa Dalam Pembangunan
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ، اَلنَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ،
Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia rahimakumullah
Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. Pelaksanaanya mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, serta kukuh kekuatan moral dan etikanya. Tujuan pembangunan nasional itu sendiri, adalah sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia. Dan pelaksanaannya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Maksudnya adalah setiap warga Negara Indonesia harus ikut serta dan berperan dalam melaksanakan pembangunan sesuai dengan profesi dan kemampuan masing-masing.
Keikutsertaan setiap warga Negara dalam pembangunan nasional dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengikuti program wajib belajar, membayar pajak, melestarikan lingkungan hidup, menaati segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, menjaga ketertiban dan keamanan, dan sebagainya.
Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia rahimakumullah
Salah satu fakta pendukung utama dalam pembangunan nasional adalah pembangunan SDM, karena pembangunan SDM merupakan tolak ukur berhasilnya sebuah pembangunan.Maka pembangunan SDM harus dimulai sejak dini dimana manusia itu lahir hingga dewasa.
Peranan Mahasiswa dalam Pembangunan
Dalam pembangunan, generasi muda atau mahasiswa tidak pernah luput dan tidak dapat dipisahkan karena mereka saling bersinerji antara yang satu dengan yang lainnya.Dimana mahasiswa harus berperan aktif dalam pembangunan tersebut.
Mahasiswa merupakan sebuah miniatur masyarakat intelektual yang memilki corak keberagaman pemikiran, gagasan dan ide-ide yang penuh dengan kreatifitas dalam rangka mewujudkan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI Yakni; Pendidikan dan pengajaran, Penelitian, Pengabdian pada masyarakat. Pengembangan diri yang diberikan di kampus dapat merubahan pikiran, sikap, dan pencerahan, menjadikan mahasiswa kaum pemikir bebas yang tercerah dan terarah yang mengutamakan ilmu dalam memahami substansi dan pokok persoalan apapun.
Dengan sifat keintelektual dan idealismenya mahasiswa lahir dan tumbuh menjadi entitas (model) yang memiliki paradigma ilmiah dalam memandang persoalan kebangsaan dan kemasyarakatan. Pengembangan wawasan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk peranan sosial individu mahasiswa tersebut dalam kehidupan kemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Mahasiswa dituntut tidak hanya berhasil membawa ijazah, tetapi juga diharuskan membawa perubahan dari ilmu dan pengalamannya selama berada di kampus.
Karena pada hakikatnya mahasiswa memiliki peran pengabdian masyarakat yaitu sebagai agent of change, Iron stock, dan Social Control. Dalam aplikasinya, mahasiswa harus memiliki langkah strategis untuk menciptakan perubahan tersebut. Mahasiswa dipilih sebagai pelaku karena memiliki potensi yang besar sebagai agen perubahan. Mahasiswa sebagai segmen pemuda yang tercerahkan karena memiliki kemampuan intelektual. Mahasiswa sebagai orang yang memiliki kemampuan logis dalam berfikir sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Sebagai bagian dari pemuda yang idealis dan energik.
Dengan potensi itu, wajar jika pada setiap zaman kemudian pemuda memegang peranan pening dalam perubahan kaumnya. Kita lihat kisah Ibrahim as sang pembaharu, atau kisah pemudi kahfi (Q.S. 18: 9-26) yang masing-masing sigap menerima kebenaran.
Ada ulama yang kemudian menyampaikan bahwa pemuda memiliki 3 peran:
1. Sebagai generai penerus (Q.S Ath Thur : 21); meneruskan nilai-nilai kebaikan yag ada pada suatu kaum.
2. Sebagai generasi pengganti (Q.S. Maidah : 54); menggantikan kaum yang memang sudah rusak dengan karakter mencintai dan dicintai Allah, lemah lembut kepada kaum mu’min, tegas kepada kaum kafir, dan tidak takut celaan orang yang mencela.
3. Sebagai generai pembahari (Q.S. Maryam : 42); memperbaiki dan memperbaharui.

Islam adalah sebuah ideology yang memberikan energi besar bagi perubahan. Kondisi saat ini sangat jauh dari ideal. Tidak perlu kita pungkiri bahwa masyarakat saat ini masih cukup jauh dari Islam. Contoh yang jelas tampak pada moral masyarakat, misalnya korupsi yang membudaya atau adanya pergaulan bebas. Oleh karena itu tidak salah jika ada ulama yang mengatakan kondisi sekarang sebagai jahiliyah modern.

Melakukan perubahan adalah perintah dalam ajaran Islam, sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyatakan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan kemarin berarti rugi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah celaka. Juga di dalam Ali Imran:104 Allah memerintahkan agar ada kaum yang menyeru kepada kebaikan sebagai sebuah perubahan.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ. اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

PARADOK PENDEDIKAN

Paradoks Politik Pendidikan
Di negeri ini, pendidikan menjadi alat politik, penghimpun kekuatan bagi Sang penguasa dan juga pelanggeng kekuasaan. Setiap kali negeri ini berganti presiden ataupun menteri, dapat dipastikan berganti pula kurikulum yang menjadi pegangan para pendidik dalam mengajar di sekolah–sekolah. Politik pendidikan memang tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan politik. Hal ini mengacu pada pernyataan filsuf luar negeri kontemporer, modern, dan posmodern, yaitu Michael Foucault, yang mengatakan bahwasanya tidaklah mungkin memisahkan keberadaan pengetahuan dengan meninggalkan kekuasaan. Sebaliknya, tidaklah mungkin kekuasaan bisa berjalan tanpa pengetahuan.

Dalam buku setebal 251 halaman ini, ada beberapa hal yang berkaitan dengan UUD 1945 yang mengatur posisi pemerintah dan warga negara. Pemerintah memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan nasional, menganggarkan 20% dari APBN dan APBD. Untuk menyukseskan penyelenggaraan pendidikan nasional tersebut, pemerintah memajukan budaya nasional dengan menjamin kebebasan masyarakat serta memelihara dan mengembangkan nilai–nilai budayanya. Sementara hak warga adalah mendapatkan pendidikan, dan kewajibanya mengikuti pendidikan dasar yang diselenggarakan pemerintah serta ikut berpartisipasi dalam menyukseskan pendidikan nasional tersebut.
Secara garis besar, buku ini memaparkan permasalahan paradoks pendidikan di negeri ini. Pendidikan yang tidak bisa terlepas dari kekuasaan politik. Seperti halnya tujuan pendidikan nasional, anggaran pendidikan, pendidikan yang belum merata, kualitas pendidikan yang masih rendah, kebijakan kurikulum yang berganti pada saat pergantian menteri pendidikan. Selain itu, ujian nasional yang hanya mengejar kecerdasan intelektual anak tanpa memperhatikan kecerdasan sebagai sebuah kebijakan, dan politik pendidikan nasional yang tidak mencerminkan antara dasar, tujuan, dan pelaksanaan dari diadakannya pendidikan naisional.
Dari hasil Survei Political and Economic Risk Consultant (PERCE), kualitas pendidikan di negara kita masih kurang jika dibandingkan dengan negara lain. Hal ini mengindikasikan bahwa ada yang salah dengan pengelolaan pendidikan nasional. Sebagai contoh, kualitas pendidikan di Indonesia yang berkaitan dengan guru cukup memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No. 20/2003, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai pembelajaran, melakukan pelatihan, melakukan penelitian hasil, dan melakukan pengabdian masyarakat. Bahkan sebagian guru di Indonesia dinyatakan “tidak layak mengajar”.
Ketika pendidikan nasional dikaitkan dengan kecerdasan kehidupan bangsa, yang terjadi adalah bagaimana politisi membodohi rakyatnya, mendidik rakyat untuk bersandiwara, mendidik rakyatnya untuk melakukan korupsi, serta mendidik rakyat untuk menjadi mafia pajak dan mafia hukum. Selain itu, kebijakan desentralisasi pendidikan justru menjadi ajang KKN pemerintah daerah. Sementsrs itu, ketika pendidikan nasional dikaitkan dengan pemerataan dan kualitasnya, masih terjadi ketimpangan dan diskriminasi, entah itu berkaitan dengan latar politik, struktur sosial, basis ekonomi maupun budayanya. Tentunya, semua permasalahan itu akan membelenggu, menyiksa, dan menyusahkan masyarakat dan peserta didik dalam mengakses pendidikan.
Dari sinilah penulis mengajak kepada kita untuk prihatin atas kebijakan dari pemerintah tersebut. Seharusnya, kebijakan – kebijakan itu semakin membuat pendidikan di Indonesia semakin maju, berkualitas, dirasakan semua golongan, mudah diakses, membantu kehidupan, dan memberi jalan masyarakat Indonesia yang lebih mandiri, kreatif, inovatif, dan arif. Namun, nyatanya proses regenerasi masyarakat Indonesia mendatang sangatmengerikan. Namun, hal itu belum terlambat, seberat apapun kondisi pendidikan nasional di negara kita, kita harus berani memperbaikinya dengan kemauan dan kemampuan yang ada sesuai dengan kapasitasnya masing – masing.
Dalam buku ini, penulis memaparkan politik pendidikan secara lengkap beserta seluk beluknya. Buku ini juga menarik untuk dibaca, penulis menguraikan segala persoalan yang disertai dengan beberapa contoh yang sesuai dengan realita. Sayangnya, penulis hanya mengkritik kebijakan para penguasa, meskipun sudah diberikan contoh dan beberapa solusi, penulis seharusnya lebih detail lagi dalam memaparkanya. Misalnya tentang perkembangan pendidikan di Indonesia, akan lebih jelas jika didukung dengan tabel atau diagram tentang perkembangan pendidikan di Indonesia. Meskipun demikian, buku ini sangat layak untuk dibaca di kalangan manapun, baik dalam dunia pendidikan maupun lingkungan masyarakat umum.